Bagaikan angsa, yang menemukan pematang sawah dikala sore hari yang indah, dengan cahaya matahari mulai memudar disudut awan putih.
Tiap momen-momen tertentu, ketika melihat beberapa orang, dengan pakaian putih bersih, sarung putih, serta kopyah yang terpakai dikepala. Berkumpul di sebuah tempat yang bersih bernama masjid, duduk bersila seraya mengidungkan lantunan sholawat.
Bait pertama sholawatan, mulai menyergap seperti es. Dingin, begitu dinginnya, hingga tak kuasa kaki ini melangkah. Saya, mengambil tempat untuk duduk, karena tak kuat berdiri. Bukan karena belum makan atau karena kecapekan.
Lantunan shalawat terus menggema, pembaca yang budiman. Tahukah anda, saat itu tubuh ini semakin menggigil.
Saya tidak tahu kenapa? Syair-syair cinta rasul itu melemahkan segala ke”akuan” yang saya miiliki. Satu tetes batu, mulai mengalir pelan dari mata. Saya tak tahu lagi, kenapa ini? Kata orang sebagai laki-laki tak boleh cengeng. Tetapi ini tak berlaku bagi saya ternyata.
Sholawatan terus saja mengoncang-goncang hati saya. Kepala tertunduk, rasa dingin yang tadi menghadiri saya hilang pelan-pelan. Entah terbang keman, saya tidak tahu. Kala dingin itu hilang, hati ini terselimuti oleh rasa hangat.
Saya tidak tahu lagi kenapa ini? Pelan-pelan, saya membaikkan hati, menata hati, namun mata sudah menjadi merah. Saya tak mengerti kenapa? Sayang, ketika itu saya tak membawa kaca mata hitam, untuk menutupi mata yang bengkak.
Topi berhias permata, sepeda berkayuh cinta.
Hati yang sepi bagai malam purnama, sholawatan datang menjemput untuk meneduhkan jiwa.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar